Strategi SIG Hadapi Penurunan Konsumsi Semen Nasional

Medan I rakyatmedan – Proyek infrastruktur ikut merasakan dampak pandemi Covid-19. Beberapa proyek mengalami perlambatan bahkan penundaan. Akibatnya, konsumsi semen nasional mengalami penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019.

Menurut Direktur Marketing & Supply Chain PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), Adi Munandir, industri persemenan Indonesia telah mencapai tingkat kompetisi yang tinggi.

“Kapasitas produksi semen nasional total mencapai 112 juta ton,” katanya dalam Webinar Public Expose Live 2020 yang digelar Bursa Efek Indonesia ( BEI) pada 24-28 Agustus 2020.

Sedangkan konsumsi semen nasional pada 2019 hanya sebesar 69,8 juta ton. Jumlah ini terdiri dari konsumsi retail sebesar 73 persen dan konsumsi semen curah sebesar 27 persen.

Begitupun, pihaknya mengaku optimis keadaan segera pulih seiring dengan kebijakan pemerintah mengalokasi dan merealokasi tambahan anggaran dalam pemulihan ekonomi nasional.

Selain itu juga diyakininya proyek-proyek strategis nasional akan kembali bergulir dan sektor swasta kembali menjalankan ekspansi usahanya.

Menurut Adi Munandir, semen Indonesia Group (SIG) akan terus mendukung dan menyukseskan program pemerintah terutama pembangunan infrastruktur

Sebagai upaya tingkatkan profitabilitas perusahaan, Ia menambahkan perseroan juga akan tetap fokus pada penyempurnaan sinergi antar unit dan entitas anak.

Hal ini untuk menciptakan peluang-peluang baru sejalan dengan visi baru perseroan untuk menjadi perusahaan penyedian solusi bahan bangunan terbesar.

“Perseroan juga akan memaksimalkan portofolio anak usaha agar lebih berkontribusi terhadap peningkatan profitabilitas perusahaan,” ujarnya.

Direktur Keuangan SIG, Doddy Sulasmono Diniawan menambahkan, meski persaingan industri semen nasional semakin kompetitif, namun, SIG pada periode Januari hingga Juni 2020 (semester I tahun 2020) berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 26,3 persen.

“Capaian ini melalui berbagai program Inisiatif Strategis,” katanya.

Menurutnya upaya hadapi menurunnya konsumsi semen, ada beberapa langkah strategis yang dilakukan SIG salah satunya dengan kode SMGR sebagai bentuk efisiensi operasional dan keuangan.

Disebutkannya efisiensi dilakukan melalui pengelolaan utilisasi produksi, efisiensi penggunaan bahan baku, memastikan pengelolaan proses supply chain yang optimal, serta melakukan pengetatan dan meningkatkan kedisiplinan dalam pengelolaan arus kas.

Melalui efisiensi tersebut, SIG masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada semester I 2020 sebesar 26,3 persen, meski pendapatan bersih menurun sebesar 2 persen.

“Dengan berbagai program efisiensi, beban pokok penjualan dapat menurun lebih besar dari penurunan pendapatan sehingga laba kotor Perseroan meningkat sebesar 3,2 persen menjadi Rp4,81 triliun dibanding semester I tahun 2019,” ungkapnya.

Pada pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) meningkat 9,6 persen menjadi Rp3.47 triliun.

Beban keuangan Perseroan juga mengalami penurunan, hasil dari upaya pengelolaan arus kas sehingga mampu menurunkan jumlah pinjaman sepanjang semester I tahun 2020.

Perseroan juga telah melakukan program refinancing pada semester 2 tahun 2019, sehingga tingkat bunga pinjaman lebih kompetitif. (rm-04)