Pulihkan Ekonomi, BRI Restrukturisasi Kredit 2,9 Juta UMKM

Medan I rakyatmedan– Harga saham BRI (kode saham BBRI) saat ini Rp3.800 dan naik 43,4 kali, kemudian nilai reinvestasi dividen naik 25,6 kali.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama BRI Sunarso pada Public Expose Live 2020 digelarkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara virtual yang digelar 24-28 Agustus 2020 diikuti 50 emiten.

Saat itu, Sunarso didampingi Direktur Keuangan Haru Koesmahargyo dan Direktur Manajemen Risiko Agus Sudiarto.

Disebutkannya, pertumbuhan jumlah investor pasar modal BRI mengalami tren kenaikan.

Terlihat dari 2018 berjumlah 1,6 juta investor. Pada 2019 sebanyak 2,5 juta investor, kemudian hingga Juni 2020 mencapai 3,02 juta.

Sunarso mengatakan, investor retail BRI juga mengalami tren kenaikan khususnya di tengah pandemi Covid-19, yang didorong kesadaran masyarakat untuk berinvestasi utamanya.

Di tengah krisis dan meningkatnya akses ke pasar modal melalui online trading app dan perubahan perilaku masyarakat dengan menjadikan aktivitas
investasi/trading sebagai hiburan.

Saat ini kepemilikan investor Retail BBRI tumbuh signifikan dari 2018 menunjukkan angka 0,82 persen.

Pada 2019 diangka 1,07 persen. Sedangkan pada Maret 2020 kembali meningkat 1,48 persen. Hingga Juni 2020 semakin meningkat 2,21 persen.

Kemudian untuk pemulihan ekonomi nasional BBRI lakukan relaksasi restrukturisasi kredit yang mencapai Rp183,7 triliun untuk 2,9 juta nasabah/ UMKM.

Sedangkan penjaminan kredit untuk nasabah UMKM senilai Rp 1,3 triliun untuk 2,317 nasabah. Selain itu untuk subdisi bunga capai Rp1,2 triliun untuk 7,1 juta nasabah.

Untuk penempatan dana pemerintah capai Rp35,8 triliun untuk 836,261 nasabah.

Sementara untuk produktif bagi pengusaha bisnis mikro mencapai Rp1,02 triliun untuk 425,950 pengusaha mikro.

Pada penjaminan kredit untuk nasabah korporasi masih dalam proses. Diharapkan segera terealisasi.

Menurut Sunarso, semua ini adalah yang dilakukan pihak BBRI dalam pemulihan ekonomi nasional, dan mendukung percepatan ekpansi kredit BRI dengan biaya dana yang rendah.

“Disaat pandemi tren restrukturisasi menurun seiring dengan pelonggaran PSBB dan kembalinya aktivitas ekonomi masyarakat,” tukasnya. (rm-04)