Hadirkan Choky Sitohang Bekali Publik Speaking bagi Wartawan

Medan I rakyatmedan – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara menghadirkan presenter yang kini jadi pembicara public speaking Choky Sitohang, pada Bincang Bareng Media (BBM) Special Edition Pelatihan Wartawan Ekonomi dan Bisnis Medan digelar 4 dan 5 Nopember 2020.

Pelatihan diikuti sekira 50 wartawan di Sibolangit itu dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Dalam materinya, Choky Sitohang CEO dari CHOSSI (Choky Sitohang Speaking Incorporation) itu mengakui, menjadi seorang jurnalis tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Menurutnya, selain memahami isu atau materi liputan, hal penting lainnya yang harus dimiliki seorang jurnalis adalah kemampuan berbicara dan menjaga penampilan agar narasumber bisa lebih nyaman saat diwawancarai.

Choky yang pernah menjadi wartawan ini menuturkan, belajar public speaking tidak mengenal usia karena hal tersebut adalah soft skill yang bisa terus digali.

Dia menyebutkan, ada tiga hal atau disebut 3 V’s of Communication yang harus dikuasai dalam public speaking. Pertama, Verbal atau diksi, materi atau what we sa, the word, idea, material. Selanjutnya, Voice atau kemampuan berbicara (vokal), dan Visual atau penampilan meliputi body language dan eye contact.

Menurut Choky, jika dipersentasikan seberapa penting tiga hal tersebut, maka untuk kemampuan verbal dibutuhkan 7 persen saja, kemudian voice 38 persen dan paling penting adalah visual sebanyak 55 persen.

“Kenapa penampilan, karena jaga mood narasumber itu sangat penting. Body language itu apalagi untuk jurnalis sangat dibutuhkan. Bukan untuk genit yah menjaga penampilan, tapi juga to represent who you are,” katanya.

Selain itu, menurutnya, jika ingin sukses saat public speaking dan presentasi dibutuhkan fokus dan juga penguasaan isu dan kemampuan menjelaskannya.

“Hal ini dibutuhkan agar membuat percaya diri tumbuh,” tukasnya.

Sebelumnya, Mas Ken, sapaan akrab rekan Choky Sitohang di Choky Sitohang Speaking Incorporation membuka sesi pertama Pelatihan Wartawan Ekonomi dan Bisnis itu dengan menyampaikan, manusia pada kodratnya memiliki tiga alat sensor yakni Visual, Auditory dan Kinestetic.

“Manusia yang bisa mengerti dengan melihat, mendengar dan sentuhan. Untuk itu wartawan harus mengetahui ciri ciri orang yang akan diajak berkomunikasi,” katanya.

Menurutnya jika seorang wartawan sudah tahu bagaimana karakter narasumbernya dengan ‘alat sensor’ tersebut, maka akan dapat lebih mudah untuk mendapat informasi dari narasumber itu.

“Kalau kita sudah mengerti dengan kecenderungan seseorang termasuk dalam kategori yang mana, kita bisa memahami cara penyampaian informasi,” katanya. (rm-04)