Lagi, Kemendikbud Tutup Empat PTS Bermasalah di Sumut

49918
PAPARAN. Kepala LLDikti Prof Ibnu Hajar ( kiri) dan Sekretaris, Dr Mahriyuni MHum ( kanan) saat mendampingi Sofyan Tan menyampaikan paparan di hadapan para peserta rakorwil.
PAPARAN. Kepala LLDikti Prof Ibnu Hajar ( kiri) dan Sekretaris, Dr Mahriyuni MHum ( kanan) saat mendampingi Sofyan Tan menyampaikan paparan di hadapan para peserta rakorwil.

Sibolangit I rakyatmedan– Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) menutup empat lagi Perguruan Tinggi Swasta ( PTS) di Sumatera Utara di 2020 ini.

Penutupan keempat PTS itu terungkap dalam pertemuan rapat kerja ( raker) Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I Sumut 2020 yang digelar di The Hill Hotel & Resort Sibolangit selama tiga hari (19-21/11/2020).

Keempat PTS itu sebut Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi ( LLDikti) Sumut Prof Ibnu Hajar yakni STBA Swadaya, STIE Al Hikmah, STIH Al Hikmah dan Amik Intelcom Globalindo, Kisaran.

Dengan demikian saat ini jumlah PTS di Sumut menjadi 216 lagi yang sebelumnya sempat tercatat sebanyak 267 PTS.

Menurut Ibnu, penutupan keempat PTS itu menyusul dicabutnya izin pendirian oleh Kemendikbud melalui LLDikti Sumut karena tidak memenuhi peraturan dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

Ada beberapa alasan penutupan keempat PTS itu, antara lain belum dipenuhinya masalah lahan atau kampus sebagai salah satu syarat dan ketentuan yang berlaku, tidak ada mahasiswa, belum terpenuhinya dosen, terjadi konflik antara yayasan dengan pimpinan PTS serta beberapa faktor lainnya.

Dengan dicabutnya lagi izin keempat PTS itu, Ibnu berharap dengan adanya rakerwil ini agar pengelola yayasan bisa lebih bersinergi dan melihat bagaimana perguruan tinggi itu dikelola dengan lebih baik lagi, seperti bagaimana programnya, sarana dan prasarana, keuangan maupun sumber daya manusianya.

“Kita ingin jangan ada ‘gesekan’ atau konflik di tubuh yayasan. Karena itulah diperlukan sinergi bukan hanya fasilitas tapi juga core business atau mandat utama.. Misalnya tingkatkan kinerja dosen dan kegiatakan kemahasiswaan.

Sebelumnya pada 2019 juga tercatat 22 PTS yang ditutup. Dari jumlah itu selain karena izinnya dicabut juga adanya penggabungan atau merger dan perubahan bentuk menjadi universitas, sekolah tinggi dan institut.

Minim Gubes

Rektor Unimed periode 2011-2015 ini juga menyoroti masih minimnya Guru Besar di Sumut.

Disebutkan Ibnu, berdasarkan data LLDikti Wilayah I Sumut per tanggal 5 Agustus 2020 jumlah dosen sebanyak 13.663 orang dengan rincian dari universitas 1.386 orang, institut 294, Sekolah Tinggi 713, Akademi 231 dan Polteknik 115 orang.

Menurut Ibnu, dari jumlah dosen itu masih banyak yang harus diidentifikasi dengan benar.

Sedangkan dari total jumlah dosen di Sumut, Guru Besar masih 49 orang

“Kita berharap ke depan akan bertambah lagi Guru Besar di Sumut sehingga kualitas pendidikan kita semakin baik dan meningkat,” katanya.

Ibnu yang baru 3 minggu memimpin LLDikti Sumut ini juga menyayangkan masih rendahnya akreditasi program studi dan akreditasi institusi.

Disebutkannya saat ini PTS di Sumut yang memiliki APT dari Badan Akreditasi Nasional sangat minim.

Dari total 216 PTS, katanya 20 persen yang baru memiliki akreditasi B atau sekira 40-an PTS. Sedangkan ratusan lagi masih belum jelas akreditasinya baik prodi apalagi institusi yang hingga saat ini baru 1 PTS terakreditasi A.

Berkaitan masih rendahnya perolehan akreditasi PTS Sumut, Ibnu meyatakan LLDikti siap memberikan bantuan dalam penyusunan instrumen ataupun borang alreditasi institusi dan prodi.

Pada rakerwil tersebut menghadirkan sejunlah pembicara, antara lain anggota DPR RI Sofyan Tan. ( rm-04)