Menelusuri Jejak Pertalian Darah Para Wali lewat Buku Sejarah Peteng

Medan I rakyatmedan – Bicara soal wali, mungkin satu topik yang sudah berjalan selama hampir 1000 tahun di Indonesia.

Kisahnya menarik karena erat dengan kesaktian atau kisah kisah karomah yang bersifat magis dan diyakini keberadaannya.

Nasab bagian penting dari tradisi kehidupan manusia Indonesia, sehingga banyak upaya  dalam mencari silsilah untuk memperjelas siapa dirinya. Cara paling mudah adalah dengan berziarah ke makam yang diyakini memiliki hubungan kekerabatan, seperti ayah dan kakek.

Kemudian ada lagi upaya lebih luas dengan menelusuri catatan dan juga melakukan napak tilas. Selain itu bertanya ke sana kemari kepada para pihak yang memiliki catatan.

Secara modern, upaya pencarian ini melalui uji DNA untuk mengecek di dalam darahnya darimana saja dia berasal.

Penulis naskah ini, di abad lampau berusaha mengurai nasab diantara  para penyebar Islam yang dianggap masyarakat luas sebagai wali.

Walau mereka datang ke berbagai wilayah di Indonesia dan dalam waktu yang berbeda beda sebenarnya mereka adalah bersaudara. Mereka masih dzurriyat keturunan dari Rasulullah SAW.

Melalui buku ini, kita melihat jelas bagaimana  sebenarnya antara orang -orang di Barus, di Aceh, di Demak, di Cirebon, Jakarta dan Banten dan seterusnya sebenarnya memiliki hubungan darah kekerabatan yang kental.
Bersaudara dan pada masa itu bersatu dalam semangat iman Islam.

Sehingga jangan kaget, kalau orang banten  misalnya punya saudara dari Makassar, punya saudara orang Aceh, karena memang begitulah jalur nasab atau kekeluargaannya.

Yang lebih mudah dilihat dalam buku ini mungkin antara Cirebon dan Banten. Hubungan tali darahnya bisa jelas terlihat.

Menurut H. Sariat Arifia, Sabtu (05/112020) di Medan, sejarah itu penting karena dengan menguasai sejarah maka bisa mengetahui dari mana asal muasal dan kemana harus pergi ke depan.

“Kalau nenek kakek kita adalah para dai di jalan Allah, para pejuang penentang penjajahan, maka sebagai anak cucunya, kita tidak akan berani mengkhianati nenek kakek kita sendiri. Kita hidup dalam aliran darah yang sama. Karenanya tidak akan menghancurkan apa yang telah dibangun mereka. Kita wajib meneruskan apa yang sudah mereka bangun, ” katanya

Disebutkannya, buku ini penting dibaca, karena di dalamnya menyibak rahasia hubungan antar berbagai suku dan kerajaan Islam di Indonesia pada saat itu.

“Kalau kita tau, maka bisa hilang egoisme sempit fanatisme kesukuan dan berkobar semangat seruan untuk tegak di jalan Allah, walau ada catatan catatan kritis, tidak semua yang ditulis itu benar,”  ungkapnya.

Muhamad Mukhtar Zaedin,  sebagai motor penggerak dan pakar dalam alih bahasa, mengungkapkan memang babad bukanlah satu catatan ilmiah sejarah.

Namun, bisa melengkapi bukti bukti sejarah yang ada karena di dalam babad ada hikayat yang berkembang di masyarakat pada masa itu yang dimasukkan secara tertulis.

Tidak juga semua keterangannya berarti benar. Namun begitulah pada waktu itu bagaimana penulis dan penyalin mereka sebuah peristiwa.

Perlu diingat, pada masa itu kertas bukan milik massal. Hanya dimiliki orang tertentu yang berkait dengan kerajaan.

Muhammad Mukhtar Zaedin menuliskan, Drh. H. R. Bambang Irianto, BA, dan juga didukung Ketua Pengelola Rumah Budaya Nusantara Pasambangan Jati Cirebon, secara khusus juga oleh Mas Raden Edwin Sudjana yang tak lain adalah keluarga Keraton Kecirebonan dalam hal ini pemilik naskah

Bagi para pemuda dan pegiat sejarah,  dan penggemar kewalian, buku Sejarah Peteng” Sejarah Rante Martabat Tembung Wali ini yang terangkum sebanyak 277 halaman ditulis Muhammad Mukhtar Zaedin,  H. Sariat Arifia dan Ki Tarka Sutarahardja.

Drh HR Bambang Irianto BA selaku editor dengan tata letak oleh Nasir Nur H diikuti desain sampul oleh Nur Huda A telah masuk dalam cetakan sejak Oktober 2020, sungguh menarik untuk dibaca. (rm-04)