LLDikti Sumut Sosialisasikan Hasil Instrumen Monev Pemetaan Mutu 2020

CINDERAMATA. Kepala LLDikti Wilayah I Sumut Prof Ibnu Hajar saat menyerahkan cinderatama kepada Gubsu diwakili Sekretaris Dinas Pendidikan Provsu Drs H Alfian Hutauruk MPd disaksikan Sekretaris LLDikti Wilayah I Dr Mahriyuni M Hum
CINDERAMATA. Kepala LLDikti Wilayah I Sumut Prof Ibnu Hajar saat menyerahkan cinderatama kepada Gubsu diwakili Sekretaris Dinas Pendidikan Provsu Drs H Alfian Hutauruk MPd disaksikan Sekretaris LLDikti Wilayah I Dr Mahriyuni M Hum

Medan I rakyatmedan-Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I Sumut sosialisasikan hasil instrumen monev pemetaan mutu 2020 di JW Marriott Hotel Medan.

Kegiatan digelar dua hari, Senin dan Selasa (7-8/12/2020) itu dibuka Gubernur Provinsi Sumatera Utara Edy Rahmayadi diwakili Sekretaris Dinas Pendidikan Provsu Drs H Alfian Hutauruk MPd.

Kepala LLDikti Wilayah I Sumut Prof Ibnu Hajar dalam sambutannya mengajak PTS untuk dapat memastikan mutu perguruan tinggi yang berkaitan SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal), SPME (Sistem Penjaminan Mutu Eksternal), dan laporan PDPT (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) tepat waktu.

“Kalau ketiganya itu berjalan baik dan saling bersinergi, maka dipastikan perguruan tinggi itu secara tata kelola dan kelayakan akademik yang menyangkut Tridharma perguruan tinggi, berjalan dengan baik,” katanya.

Menurutnya, hal itu dibuktikan kriteria 9 yang memuat tentang luaran dan capaian Tridharma kinerja perguruan tinggi.

Seperti diketahui, 9 kriteria akreditasi meliputi, pertama yaitu visi, misi, tujuan, dan strategi. Kedua, tata pamong, tata kelola, dan kerjasama. Ketiga, mahasiswa. Keempat, Sumber Daya Manusia (SDM). Kelima, keuangan, sarana, dan prasarana. Keenam, pendidikan. Ketujuh, penelitian. Kedelapan, pengabdian kepada masyarakat. Kesembilan, luaran dan capaian Tridharma.

Sekretaris LLDikti Wilayah I Dr Mahriyuni M Hum yang juga hadir pada kegiatan itu menjelaskan, sosialisasi ini menjadi kegiatan rutin dan berkelanjutan dilakukan setahun sekali pada akhir tahun.

“Tujuan dari Monev untuk pemetaan mutu PTS yang dikualifikasikan dari jenis perguruan tingginya, seperti universitas, institut, akademi, sekolah tinggi, dan politeknik,” ujarnya.

Mahriyuni mengungkapkan, pada saat pelaksanaan Monev harusnya dilakukan secara visitasi ke lapangan. Namun mengingat situasi pandemi maka pelaksanaannya kali ini dilakukan semuanya dalam bentuk daring.

Dalam onev ini dibentuk tim sembilan, yaitu yang menangani sembilan kriteria yang berkaitan dengan model akreditasi BAN-PT untuk perguruan tinggi.

Tim sembilan, sebut Mahriyuni, adalah dosen senior yang punya kemampuan akademik memadai dan pernah mengelola perguruan tinggi.

“Dari sembilan kriteria itu, kita membagi masing-masing per kriteria untuk dievaluasi berdasarkan sembilan klasifikasi perguruan tinggi,” ujarnya.

Tim sembilan itu bekerja mulai dari persiapannya menyusun instrumen mengikuti model instrumen BAN PT. Tetapi lebih difokuskan pada pemenuhan dokumen mutunya.

“Kalau BAN-PT penilaian secara kuantitatif dan kualitatif. Sedangkan di LLDikti, fokuskan pada pemenuhan dokumen terkait pada kriteria 1 sampai 9,” ungkap Mahriyuni.

Mahriyuni menuturkan, setelah dilakukan persiapan penulisan instrumen maka dilakukan sosialisasi instrumen-instrumen tersebut melalui daring untuk seluruh PTS.

Menurutnya, sosialisasi itu dilakukan dalam rangka penyamaan persepsi, memastikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan instrumen itu dapat dipahami perguruan tinggi dan sekaligus mempersiapkan dokumen terkait dengan pemenuhan kriteria satu sampai sembilan.

Kemudian, setelah melakukan sosialisasi maka Tim Sembilan melakukan rapat untuk memastikan kelayakan instrumen itu untuk bisa diisi oleh perguruan tinggi.

Pasalnya, jelas Mahriyuni, pada saat sosialisasi instrumen tersebut masih dimintakan saran-saran dari perguruan tinggi, sekiranya ada hal-hal yang ingin ditambahkan atau dilengkapi perguruan tinggi.

Setelah diperoleh instrumen yang sudah layak, kata Mahriyuni maka PTS diminta untuk mengisi pertanyaan tersebut dengan melengkapi dokumen dalam bentuk google drive data yang dikirimkan ke website LLDikti.

Diakuinya, dalam prosesnya itu memang ada kesulitan berkaitan dengan data-data yang dikirimkan perguruan tinggi, sebab linknya sering ada yang tidak bisa dibuka.

Biasanya, kata Mahriyuni, Tim Sembilan meminta lagi kepada perguruan tingginya untuk melengkapi link tersebut. Tetapi tidak semua perguruan tinggi mematuhi dan mengikuti permintaan tersebut, sehingga itu yang membuat Tim Sembilan kesulitan menilai dan memberikan skoring.

“Apa boleh buat kita ‘kan kerja berbasis data. Jadi, dengan data yang apa adanya itulah yang dinilai tim penilai,” tukasnya.

Mahriyuni mengungkapkan, LLDikti Sumut menargetkan 216 PTS yang ada di Sumut untuk ikut. Namun instrumen yang dikirim atau diserahkan ke LLDikti hanya 140.

“Masih ada 76 PTS yang tidak mengisinya. Berarti mereka itu tidak ikut terlibat dalam kompetisi ini,” ucapnya.

Menurutnya, kendala-kendala itu menjadi perbaikan dan evaluasi LLDikti Sumut ke depan untuk melihat model seperti apa pelaksanaan daring atau luring.

Sosialisasi selama dua hari itu diikuti para pimpinan perguruan tinggi swasta di lingkungan LLDikti Sumut. Tampil sebagai pemateri pada hari pertama, Dr Ir Muhammad Buchari Sibuea MSi dan Dr Darwin.

Sosialisasi dirangkai dengan pengumuman nominasi dan penghargaan serta penyerahan hadiah bagi PTS yang memperoleh nilai scoring tertinggi dalam pelaksanaan instrumen monev Pemetaan Mutu 2020. ( rm-04)