Kemendikbud Serahkan SK Pendidikan Profesi Apoteker USM Indonesia

Medan I rakyatmedan-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) RI melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti)
menyerahkan SK izin pembukaan program studi Pendidikan Profesi Apoteker Program Profesi Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia.

Salinan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 1218/M/2020 tanggal 30 Desember 2020 itu
diserahkan Kepala LLDikti Wilayah I Prof Dr Ibnu Hajar MSi kepada Ketua Yayasan Sari Mutiara Medan DR Parlindungan Purba SH MH di aula LLDikti Wilayah I Jalan Setia Budi Tanjung Sari Medan, Senin (11/1/2021) disaksikan Sekretaris LLDikti Dr Mahriyuni MHum.

“Dengan adanya prodi ini kami berharap akan berupaya membantu pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam penanganan pasien Covid-19,” kata Parlindungan Purba.

Disebutkannya, melalui prodi baru itu USM Indonesia akan mencetak apoteker sebagai tenaga kefarmasian yang profesional dalam menyelenggarakan pekerjaan kefarmasian. Karena itu dia berharap ilmu pengetahuan di bidang apoteker ini bisa berkembang dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Parlindungan mengaku, izin pembukaan prodi Pendidikan Profesi Apoteker Program Profesi memang sudah lama ditunggu dan kini telah terwujud.

“Kami bersyukur dan gembira atas realisasinya pada hari ini. Terimakasih kepada Kemendikbud dan juga LLDikti Sumut atas bimbingan dan dukungannya kepada USM Indonesia,” tuturnya.

Dengan adanya prodi baru itu maka jumlah prodi yang ada di USM Indonesia bertambah menjadi 21 prodi. Sedangkan penerimaan mahasiswa baru untuk prodi program profesi ini akan dimulai pada Februari 2021.

Guna mendukung pendidikan bermutu di USM Indonesia, Parlindungan menyatakan telah berkomunikasi dengan Rektor Dr Ivan Elisabeth Purba M.Kes supaya mendorong para dosen yang telah doktor agar meraih gelar profesor.

“Jumlah dosen yang doktor di USM Indonesia sudah banyak dan kami berharap dapat meningkat serta menjadi guru besar,” ucapnya.

Parlindungan juga mengungkapkan akan mengembangkan prodi yang vocasional berkaitan dengan digital yang telah ada di USM Indonesia.

“Saya sebagai Ketua Yayasan Sari Mutiara memastikan dan meyakinkan agar kualitas, fasilitas dan pelayanan berjalan dengan baik di Sari Mutiara,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala LLDikti Wilayah I Prof Dr Ibnu Hajar  menuturkan, SK izin pembukaan prodi baru tersebut membuka jalan peluang.

“Ini juga sebuah kegembiraan bagi LLDikti bisa menyerahkan SK itu,” kata Ibnu meminta agar tatakelolanya dijaga oleh USM Indonesia.

Ia menilai prodi baru di USM Indonesia itu prospeknya saat ini memang diperlukan.

LLDikti, kata Ibnu, mengimbau PTS agar memikirkan prodi  bertaut dengan vokasi yang peluang kerjanya jauh lebih terbuka.

Menurutnya prospek apateker kini sangat terbuka karena masyarakat banyak memerlukan informasi tentang farmasi.

“Namun, perlu juga digitalisasi farmasi. Jadi, orang tidak perlu keluar rumah atau datang ke apotik lagi,” ujarnya.

Sekretaris LLDikti Wilayah I Dr Mahriyuni MHum menyambut baik pembukaan prodi baru itu. Ia menyarankan USM Indonesia untuk segera bisa menerima mahasiswa baru untuk prodi tersebut.

Disebutkannya, dengan menggunakan instrumen kriteria sembilan, SK yang diberikan pada 2021 prodi barunya ini sudah terakreditasi minimal ‘Baik’.

“Namun, USM Indonesia tetap harus sudah mempersiapkan diri untuk reakreditasi untuk masa 5 tahun kedepan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa semua aktivitas yang dijalankan saat ini belum ada anggaran dari mahasiswa, sehingga yayasan harus memberikan sepenuhnya fasilitas pendanaan kepada prodi baru itu.

“Ini jadi subsidi silang, karena belum ada dana yang masuk dari mahasiswa,” ujarnya.

Makanya, kata Mahriyuni, penyerahan salinan SK izin pembukaan prodi Pendidikan Profesi Apoteker Program Profesi itu diberikan dengan mengundang pihak yayasan.

Menurutnya hal itu dilakukan untuk meminta komitmen daripada badan penyelenggara guna memastikan bahwa prodinya harus jalan, meskipun belum ada fasilitas dari segi pendanaan dari mahasiswanya.

Mahriyuni menjelaskan sejumlah persyaratan harus dipenuhi dalam mendirikan prodi baru itu.  Pertama, kelayakan dosennya.

“Kelayakan bidang ilmu dosen dengan bidang yang akan diampu harus linier,” ujarnya.

Kedua, perguruan tinggi itu harus memastikan adanya tatakelola yang baik terkait dengan penguatan sistem penjamin mutu internal. Ketiga, pastikan fasilitas yang tersedia, apalagi ini program profesi tentu menurutnya berkaitan dengan laboratorium.

Keempat, mendapat persetujuan dari asosiasi profesi di bidang apoteker. Pasalnya,  asosiasi itu dilibatkan dalam penilaian ketika visitasi yaitu kerjasama antara direktorat kelembagaan kementerian dengan asosiasi profesi.

Sebenarnya, sebut Mahriyuni, langkah utamanya harus mendapatkan rekomendasi dari LLDikti.

“Sebelum memasukan rekomendasi, mereka harus mengusulkan usulannya ke LLDikti. Kemudian kita lakukan presentasi dan mengundang evaluator di bidang ilmu-ilmu prodi,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Mahriyuni, mereka menjelaskan pemanfaatan prodi ini kedepannya. Evaluator akan memberikan masukan-masukan agar lebih sempurna. Dari hasil penilaian evaluator barulah LLDikti memberi rekomendasi.

“Tanpa rekomendasi LLDikti,  prodi itu tidak bisa melanjutkan lagi langkah selanjutnya,” tukasnya.

Pada kesempatan itu Mahriyuni mengungkapkan, adanya pembukaan prodi baru dan juga penambahan jumlah guru besar pada tahun ini, merupakan sebuah prestasi bagi Prof Ibnu Hajar sebagai kepala LLDikti yang baru dua bulan menjabat, namun telah banyak raihan yang dicapai. (rm-04)