AR Baswedan layak dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional karena langkah-langkah nasionalistik dan patriotiknya sejak usia muda. | Foto: Istimewa
AR Baswedan layak dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional karena langkah-langkah nasionalistik dan patriotiknya sejak usia muda. | Foto: Istimewa

Jakarta | rakyatmedan – Alwad Abdur Rahman Baswedan atau akrab disapa AR Baswedan, seorang nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, muballigh, dan juga sastrawan Indonesia segera ditetapkan sebagai pahlawan nasional, pada Kamis (8/11). Rencananya pengukuhan ini akan disampaikan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.

AR Baswedan merupakan salah satu pejuang di masa kemerdekaan yang memiliki peranan penting dalam sejarah Indonesia. Baswedan termasuk dalam tim di bawah koordinator H Agus Salim berjuang di luar negeri agar Indonesia memperoleh pengakuan sebagai negara.

Dia berhasil meyakinkan negara-negara Arab di Timur Tengah sehingga Indonesia waktu itu memperoleh dukungan dari Mesir dan Arab.

Suratmin, mantan peneliti dari Badan Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi Yogyakarta, yang dulu pernah menulis biografi AR Baswedan mengatakan, sebagai seorang keturunan Arab, Baswedan selalu dikenang dalam konteks sejarah di Indonesia.

Ia tidak saja berjuang lewat Partai Arab Indonesia yang didirikan tahun 1934, namun dia juga berani menegaskan bahwa Indonesia adalah ibu pertiwi bagi keturunan Arab.

“Dia berhasil menyatukan orang-orang Arab dari berbagai suku dan klan melalui PAI yang saat itu susah untuk disatukan. Dia juga menegaskan rasa nasionalismenya dengan mengatakan tanah tumpah darahnya Indonesia,” kata Suratmin.

Dia memang layak mendapat gelar pahlawan nasional atas perjuangan dan dedikasinya untuk Indonesia. Pada 2011, Yayasan Nation Building (Nabil) yang dipimpin Drs Edi Lembong, mengusulkan mantan Menteri Muda Penerangan dan Anggota Delegasi Diplomatik RI ke Timur Tengah, tersebut menjadi Pahlawan Nasional.

Nabil berpendapat, Baswedan layak dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional karena langkah-langkah nasionalistik dan patriotiknya sejak usia muda. Ketika orang masih ragu mendukung nasionalisme Indonesia, Baswedan tanpa ragu menjadi Indonesia.

Meskipun dalam sistem hukum kolonial Belanda, Baswedan dan orang-orang keturunan Arab bersama golongan Timur Asing berada di peringkat kedua; Baswedan justru memilih menurunkan derajatnya di peringkat ketiga bersama golongan pribumi.

Untuk mempromosikan Baswedan, Nabil mengadakan serangkaian seminar tentang Baswedan, antara lain di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Sebuah buku, juga diterbitkan.

Semua ikhtiar Nabil, berbuah positif. Baswedan memenuhi semua syarat untuk menjadi Pahlawan Nasional. Instansi terakhir dalam urusan ini, Dewan Gelar dan Tanda Jasa, sudah mufakat. Akan tetapi pengukuhan Baswedan tertunda lantaran pada tahun terakhir masa pemerintahannya, Presiden SBY hanya mengukuhkan kepahlawanan Bung Karno dan Bung Hatta.

Semasa hidupnya, AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante.

Selain itu, A.R. Baswedan merupakan salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir. Selain berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, AR Baswedan juga menguasai Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Belanda dengan fasih.