Direktur Kantor Perwakilan BI Sumut Hilman Tisnawan menggunting pita pada saat meresmikan STA Poktan Juli Tani di Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Deliserdang,

Deliserdang | rakyatmedan – Bank Indonesia meresmikan Sub Terminal Agribisnis (STA) kelompok tani (poktan) Juli Tani di Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang, Selasa (4/12).

Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut), Hilman Tisnawan mengatakan, tujuan didirikannya STA itu adalah sebagai wadah petani untuk mengumpulkan dagangannya, sehingga dapat mengefisiensikan distribusi sekaligus memotong mata rantai tengkulak agar dapat mensejahterakan petani.

“Selama ini kendala yang dialami para petani adalah masalah pemasaran, karena itu kita dirikan STA ini agar dapat memudahkan distribusi dan memotong mata rantai tengkulak. Sehingga petani dan konsumen sama-sama mendapat harga yang wajar,” kata Hilman Tisnawan sereya menyebutkan peresmian STA ini merupakan ke-2 di Indonesia setelah Sumatera Barat. 

Ia mengatakan, pihaknya terus berupaya menjaga stabilitas perekonomian Sumut agar inflasi tetap terkendali. Terlebih, cabai merah merupakan salah satu pemicu inflasi di Sumut. 

“Harga cabai merah di Kota Medan sangat berfluktuasi. Sehingga kita bina poktan-poktan khususnya poktan klaster cabai merah untuk menjaga ketersediaan pasokan,” tuturnya.

Pembinaan yang dilakukan BI kepada poktan Juli Tani, sambungnya, bertujuan untuk menghasilkan produk pertanian organik dengan menggunakan cara bertanam yang baik (good agriculture practice). Dengan harapan dapat menjadi pelopor penyedia pangan cabai merah di Kabupaten Deliserdang maupun di Sumut.

Ketua Poktan Juli Tani, Yareli menyebutkan, sebelum dibina oleh BI, produktivitas para petani yang tergabung dalam poktan Juli Tani masih tergolong rendah. Hasil produksi cabai merah mereka hanya mencapai 12 ton per hektar.

Disebutkannya, dengan adanya pembinaan oleh BI, hasil produksi cabai merah meningkat hingga 17 ton per hektar dengan luas lahan tanam 31 hektar. 

Setelah dibangunnya STA ini dan beroperasional sekitar 57 hari, ada 25 ton cabai merah yang sudah tertampung dengan rata-rata pembelian dari STA periode Oktober 2018 mencapai 700 hingga 800 kilogram cabai. Sementara, untuk November 2018 mencapai 1.234 kilogram,” terangnya.

Disebutkannya, rata-rata perputaran uang yang masuk dari pedagang yang membeli cabai merah ke petani melalui STA sekitar Rp645 juta. Ia berharap ke depan, STA tersebut bisa menjadi lebih maju lagi. (rm-04)