Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah didampingi Founder Yayasan Mujianto, Kepala sekolah Rita, Kacabdis Pendidikan Lubuk Pakam August Sinaga dan lainnya foto bersama tim CKSSRP, Jumat (7/12/2018).

Medan | rakyatmedan – Tujuh siswa-siswi Chandra Kumala School pantas berbangga hati. Bagaimana tidak, hasil penelitian mereka diterima Lembaga Aeronautika dan Antariksa Amerika Serikat atau National Aeronaustic and Space Administration (NASA).

Pencapaian yang luar biasa itu diungkapkan ke publik di Chandra Kumala School, kompleks Cemara Asri yang dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah, Jumat (7/12).

Prestasi gemilang yang ditorehkan ketujuh pelajar yang tergabung di tim Chandra Kumala School Space Research Program (CKSSRP) ini merupakan proyek penelitian microgravity berafiliasi dengan NASA yang berpusat di Silicon Valley, Jan Sose, California, dengan penghubung nasional dari Center for Innovative Learning (CIL) Jakarta.

Tim CKSSRP terdiri dari tujuh siswa/i yaitu Fira Fatmasiefa (Student Leader Project Manager), Bramasto R Prosojo (Engineer & Co-Progammer), Ryo Hilmawan (Progammer), Russel Oeintz (Biological Expert), Venny
(marketing & publication), Joanne Clarissa (Maze designer) dan Nadya Yosefa (Publication & Documentation).

Dengan dibimbing tiga mentor yaitu Diyah Purworini (Biology mentor), Andrew P Watts (IT & Technic Member) dan Suwandi Sibarani (Chemistry Mentor), mereka melakukan penelitian lumayan panjang sejak dua tahun lalu dengan mengirim ke Stasiun Luar Angksa Internasional (ISS).

Penelitian yang mereka lakukan dengan mengamati pertumbuhan slime mold di dalam 3D-Maze. Slime mold atau nama latin ilmiahnya physarum polycephakum adalah suatu mahluk hidup berjenis prostista yang sensitif terhadap cahaya dan bereaksi terhadap rangsangan seperti makanan dan air, dimana dia akan tumbuh dan membuat cabang-cabang untuk mencapai sumber makanannya.

Kerja keras dan kesungguhan mereka ternyata tidak sia-sia. Penelitian yang diajukan ke NASA ini mendapat respon luar biasa dan dipilih dari banyaknya penelitian yang juga masuk ke NASA. Bahkan menjadi urutan kelima terbaik di dunia atau satu-satunya dari Asia.

Malah hasil penelitian itu sudah diluncurkan ke ISS pada 21 Mei 2018 dengan menggunakan roket Orbit ATK-OA-9 dari fasilitas peluncuran NASA yang ada di Wallop Islands, Virginia. Kemudian pada 15 Agustus Microlab tim CKSSRP dikirim kembali ke bumi dengan roket CR15 Dragon.

Pada pertemuan itu juga dihadiri Founder Yayasan Mujianto, Kepala sekolah Rita, Kacabdis Pendidikan Lubuk Pakam August  Sinaga SPd SST MAP dan mewakili Kepala Dinas Pendidikan Sumut.

Ijeck-sapaan akrabnya pada sambutannya mengaku bangga atas kerja keras tim CKSSRP, meski diakuinya awalnya sempat tidak percaya.

“Awalnya saya bingung ada tim research program NASA di sekolah di Sumut. Saya berpikir ini benaran atau NASA main-main. Karena yang kita bayangkan NASA bukan proyek yang umum atau gampang, apalagi di tingkat sekolah,” kata Ijeck.

Ijeck mengatakan catatan prestasi yang ditorehkan tim CKSSRP itu merupakan suatu inovasi yang luar biasa. Mereka berangkat ke Amerika Serikat itu bukan hal yang gampang. 

Mewakili pemerintahan Sumut, Ijeck melihat hasil yang  didapatkan dan menjadi peringkat kelima di dunia juga sangat luar biasa.

Pihaknya pun berjanji ke depan akan membantu tim dan sekolah ini jika ke depan ada program lagi. Mengingat selama ini, tim CKSSRP mencari dana sendiri yang tentu tidak sedikit .

Ijeck memastikan hasil ini menunjukkan Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Hanya saja, faktanya banyak orang pintar Indonesi lebih memilih bekerja di luar negeri.

Untuk itu ke depan, dia menargetkan pemerintah untuk berperan terhadap anak-anak Indonesia yang pintar sehingga mau bersumbangsih untuk negara dan daerah.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Chandra Kumala School, Rita menyebutkan capaian Tim CKSSRP itu melalui kerja keras yang cukup panjang, bahkan tidak sekali proposal penelitian ditolak.
 
Dia mengatakan untuk berangkat dan menyiapkan semua keperluaan tim, banyak yang mendukung baik dari yayasan, orang tua, donatur yang menggalang dana.

“Projek ini memang tak mudah, bahkan menghabiskan dana sekira 30 ribu dollar atau kurang lebih Rp1,5 miliar. Namun, semua terbayar denga pencapaian para siswa,” kata Rita yang mengaku bangga atas raihan peserta didiknya.  (r-04)