Tokoh Partai Buruh, Penny Wong. | foto: AFP
Tokoh Partai Buruh, Penny Wong. | foto: AFP

Sydney | rakyatmedan – Keputusan Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengakui Yerusalem Barat sebagai ibukota Israel memicu kecaman di dalam negeri.

Tokoh oposisi dari Partai Buruh menyebut Morrison lebih mendahulukan kepentingan pribadi daripada nasional.

“Mengakui Yerusalem Barat sebagai ibukota Israel, yang dilanjutkan dengan memindahkan kedubes Australia di Tel Aviv, tidak lebih dari latihan untuk menyelamatkan muka,” kata tokoh Partai Buruh, Penny Wong, yang juga menteri luar negeri bayangan, dalam pernyataannya, dikutip dari AFP, Sabtu (15/12).

Dia melanjutkan, keputusannya itu akan membawa masalah baru bagi Australia, yakni menjadikan negara menjadi terasing.

“Ini merupakan keputusan yang mengandung banyak risiko dan tidak ada keuntungannya,” ujar Wong, seraya menambahkan, Australia telah keluar dari jalurnya.

Mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel sebenarnya menyalahi resolusi PBB yang mengamanatkan wilayah itu harus diputuskan berdasarkan perjanjian damai oleh kedua pihak, Palestina dan Israel. Amerika Serikat merupakan negara pertama yang melanggarnya setelah menyatakan pengakuan sepihak pada Desember 2017.

Kecaman juga datang dari Jaringan Advokasi Australia Palestina (APAN). Presiden APAN George Browning keputusan Morrison itu tak mencerminkan kepentingan Australia.

“Ini menyabotase setiap kemungkinan nyata di masa depan yang hanya bisa dicapai dengan perjanjian, lebih lanjut bisa mendorong Israel untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap warga Palestina,” kata Browning, dalam pernyataan.

Sehari sebelum pengumuman disampaikan, Duta Besar Palestina di Australia Izzat Abdulhadi mengatakan, pihaknya akan mendesak negara Arab dan negara Islam untuk menarik duta besarnya dari Australia.

Abdulhadi juga menyerukan negara Arab dan negara Islam untuk memboikot kerja sama ekonomi dengan Australia.