Rusia tidak akan mengakui Yerusalem sebagai IbuKota Israel. | Foto: AFP
Rusia tidak akan mengakui Yerusalem sebagai IbuKota Israel. | Foto: AFP

Jakarta | rakyatmedan – Australia memutuskan untuk mengakui Yerusalem Barat sebagai Ibukota Israel. Rusia menegaskan tidak akan mengikuti langkah itu.

Konflik antara Israel dan Palestina menjadi perhatian oleh Duta besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva. Baginya tindakan Australia itu akan memberikan dampak yang tidak baik.

Oleh karena itu, Lyudmila menekankan bahwa pihak Rusia berada di posisi yang berbeda dengan Australia. Rusia tidak akan mengikuti langkah Australia untuk mengakui Yerusalem Barat sebagai teritori Israel.

”Kami pikir tindakan tersebut merupakan kontraproduktif, hal tersebut bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Kami mengikuti two state solution (solusi dua negara),”  kata Dubes Vorobieve saat ditemui di kediamannya, Selasa (18/12).

“Kami tidak memindahkan kedutaan kami dan tidak mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Kita memiliki posisi berbeda,” tegasnya.

Terkait solusi dua negara, Pemerintah Australia telah memutuskan untuk mengakui aspirasi rakyat Palestina. Mereka mengatakan rakyat Palestina memiliki masa depan dengan Ibu Kota di Yerusalem Timur.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison memilih menunda pemindahan kedutaan besar Australia dari Tel Alviv. Negeri Kanguru berencana untuk mendirikan kantor perdagangan dan pertahanan di Yerusalem barat.

Sementara Pemerintah Indonesia akan mencatat beberapa poin penting usai Australia mengumumkan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Salah satunya mengenai pernyataan Australia yang tidak memindahkan kedutaan di Tel Aviv ke Yerusalem.

Selain mencatat sikap Australia yang tidak memindahkan kedutaannya ke Tel Aviv, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir Indonesia juga mencatat dengan baik posisi Australia untuk mendukung prinsip two-state solution dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina.

Arrmanatha menambahkan bagi Indonesia, isu Yerusalem harus terus dinegosiasikan dan diputuskan. Langkah ini sebagai bagian akhir dari perdamaian komprehensif antara Palestina dan Israel dalam kerangka solusi dua negara.