Medan | rakyatmedan – Paten merupakan hak eksklusif yang diberikan negara kepada inventor atas hasil temuannya di bidang teknologi. Untuk itu hasil riset yang dilakukan peneliti atau sekelompok dosen harus disebarluaskan. 

“Namun pemahaman dosen terhadap paten masih kurang. Kendala itu kemungkinan disebabkan kurangnya sosialisasi,” ungkap Rektor USM Indonesia Dr Ivan Elisabeth Purba MKes, Rabu (19/12).

Ivan mengakui selama ini penelitian yang dilakukan dosen tidak terpikirkan untuk dipatenkan, karena kecenderungan para dosen (peneliti) yang berorientasi jangka pendek dengan mengejar kredit point semata.

Untuk itulah USM Indonesia memberikan kesempatan kepada para dosennya mengikuti seminar, pelatihan mengenai paten dan  motivasi dari institusi demi mengembangkan kreatifitas dalam melakukan penelitian, sosialisasi tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI),khususnya mengenai paten dari Dirjen HKI

“Kampanye pentingnya penggunaan paten untuk melindungi hak cipta harus segera dimasyarakatkan agar tidak terjadi pencurian kekayaan intelektual,” katanya.

Menyikapi itu, USM Indonesia menggelar Sosialisasi Program Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan. 

Sosialisasi digelar di Ign Washington Purba Hall, Senin (17/12) itu membahas HKI, jurnal, publikasi dan perizinan peneliti asing.

Tampil sebagai narasumber Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti Dr Sadjuga, dan Kepala Seksi Jurnal Ilmiah Nasional Yoga Dwi Arianda

Wakil Rektor IV Rinawati Sembiring S.SiT, MKes ketika membuka sosialisasi itu berharap wawasan dosen USM Indonesia bertambah dan ada progres positif di kampus itu.

Diungkapkannya, sejak pertemuan Oktober lalu dengan pihak Dikti, beberapa dosen USM Indonesia sudah diberikan hak paten.

 “Dalam kegiatan ini kami harapkan akan ada karya dosen yang bisa digunakan. Masih banyak ketertinggalan sehingga perlu strategi agar lebih maju dan cepat lagi,” ujarnya.

Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti Dr Sadjuga dalam paparannya menyebutkan sumber daya alam Indonesia yang melimpah yang jadi penopang ekonomi, suatu saat akan menipis dan habis.

“Yang tidak akan habis itu kekayaan intelektual yang ada di kepala masing-masing. Inovasi itu tidak akan habis,” ujarnya.

Karena itu, kata dia, kekayaan alam harus diubah menjadi kekayaan intelektual.

Dijelaskannya, dibanding negara lain, daya saing Indonesia berada di rangking 45 dari 140 negara. Daya saing itu, kata Dr Sadjuga, berkaitan dengan inovasi.

Diakuinya, dana riset dan pengembangan sangat rendah sehingga inovasi dibeli dari luar. Paten internasional juga rendah, sehingga suatu saat Indonesia diharapkan jangan import. 

Dia mengingatkan, untuk menghasilkan sesuatu yang sampai ke market, prosesnya sangat panjang. Menurutnya paten yang bagus pastinya didahului oleh kegagalan teknis. (rm-04)