Berantas Mafia Skor Sepakbola, Polri dan PSSI akan Bentuk Satgas

Karo Penmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12). | foto: istimewa
Karo Penmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12). | foto: istimewa

Jakarta | rakyatmedan – Polri dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berencana akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) pemberantasan mafia skor berdasarkan komitmen Kapolri Jenderal Polisi Prof H Muhammad Tito Karnavian.

“Kapolri Jenderal Tito Karnavian sudah berkomitmen akan membentuk Satgas tersebut. Nantinya bekerja sama dengan PSSI dan stakeholder terkait pertandingan,” ujar Karo Penmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12).

Dedi menjelaskan, pihaknya bersama PSSI akan secepatnya membentuk Satgas tersebut sebelum Sepakbola Liga Indonesia bergulir tahun depan. Nantinya, kata Dedi, akan ada pihak pelapor pelanggaran (whistle-blower) dalam kasus itu.

“Kami akan melakukan penyidikan dan bekerja sama dengan PSSI serta pihak Liga terkait orang-orang yang akan dijadikan whistle blower terhadap kasus tersebut,” jelasnya Dedi.

Kapolri akan mengendalikan langsung Satgas itu termasuk memilih para personel yang mumpuni di bidang penyidikan. Di dalam Satgas, direncanakan membentuk Sub-Satgas dan akan turun tangan jika kasus sudah ditingkatkan menjadi tahap penyelidikan guna menemukan fakta hukum soal tindak pidana.

“Misalnya satu unsur tidak pidana penipuan, kami terapkan pidana umum. Kalau penyuapan kami terapkan undang-undang tentang suap. Siapa yang menerima atau memberikan suap akan dihukum,” jelas Dedi.

Isu pengaturan skor setelah pengakuan dari Manajer Madura FC Januar Herwanto. Ia menyebut pernah ditawari sejumlah uang oleh anggota Komite Eksekutif (exco) PSSI, Hidayat, agar mengalah dengan PSS Sleman di Liga 2.

Hidayat pun memutuskan mundur dari Exco PSSI. Komdis PSSI hanya melayangkan sanksi larangan beraktivitas di sepak bola selama tiga tahun. Ia juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp150 juta. Selain itu, Hidayat juga tidak diperkenankan memasuki stadion selama dua tahun.