Seorang Anggota TNI yang diketahui bernama Letkol Cpm Dono Kusprianto ditemukan tewas dengan bersimbah darah di depan sekolah Santa Maria, Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur pada Selasa (25/13) sekitar pukul 23.00 WIB. | foto: istimewa
Seorang Anggota TNI yang diketahui bernama Letkol Cpm Dono Kusprianto ditemukan tewas dengan bersimbah darah di depan sekolah Santa Maria, Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur pada Selasa (25/13) sekitar pukul 23.00 WIB. | foto: istimewa

Jakarta | rakyatmedan – Serda Jhoni Risdianto oknum anggota TNI Angkatan Udara, resmi diancam hukuman diatas 15 tahun penjara dan dipecat dengan tidak hormat dari kesatuan TNI.

Penahanan dan pemecatan tersebut terkait atas ulahnya yang tega menembak mati anggota Polisi Militer Angkatan Darat Letkol CPM Dono Kuspriyanto di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur, Selasa (25/12) malam, lantaran dipicu senggolan kendaraan dalam keadaan mabuk minuman keras (miras).

“Karena tersangkanya anggota militer dan korbannya juga anggota militer, maka yang berlaku adalah KUHPM (Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer) dan peradilannya akan di peradilan militer,” kata Kasubdispenum Angkatan Udara Letkol (Sus) Muhammad Yuris di Kodam Jaya, Rabu (26/12).

TNI AU berjanji akan mengusut kasus dengan transparan, Letkol Yuris menghimbau masyarakat tidak membuat spikulasi lain karena kasus murni kejahatan kriminal pribadi meski korban dan pelaku adalah anggota TNI.

“Jadi dari Sat Pom Lanud Halim Polisi Militer Angkatan Udara sebagai penyidik akan melimpahkan berkas pemeriksaan atau penyidikan kepada Auditur Militer, kemudian Auditur Militer akan melimpahkan ke pengadilan militer untuk diadili,” ujar dia.

Sementara Kepala Penerangan Kodam Jaya (Kapendam), Letkol Inf Kristomei Sianturi menjelaskan, dari segi hukum setiap anggota TNI yang keluar dari kesatuan tanpa ijin sudah melanggar disiplin apalagi dibawah pengaruh minuman keras.

Pistol yang digunakan adalah senjata dinas milik Serda Jhoni Risdianto sendiri setelah dinyatakan lolos uji memegang senjata. Namun, alasan apapun penggunaan senjata diluar kendali tetap tidak dibenarkan.

“Untuk hukuman kalau pembunuhan dikenakan pasal 338 KUHP itu ancamannya di atas 15 tahun dan tambahan dipecat,” tegas Kapendam.

Peristiwa sendiri terjadi pada Selasa (25/12) malam sekitar pukul 22.30 di sekitar Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur. Meski ditembak dua kali dari belakang, korban tetap menjalankan kendaraan dan terus dikejar oleh pelaku. Karena kondisi jalanan padat korban tidak bisa melaju kencang sehingga pelaku kembali menembak dari arah depan. Korban meninggal di tempat setelah peluru bersarang di pelipis dan punggung.