Vanessa Angel setelah diperbolehkan pulang oleh Polda Jawa Timur, Minggu (6/1) | foto: istimewa
Vanessa Angel setelah diperbolehkan pulang oleh Polda Jawa Timur, Minggu (6/1) | foto: istimewa

Jakarta | rakyatmedan – Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Pol Frans Barung Mangera membantah pernyataan kuasa hukum artis Vanessa Angel, yang menyebut kliennya dijebak dalam kasus prostitusi online.

Menurut Barung, pernyataan pengacara Vanessa yang mengatakan kliennya hanya memenuhi panggilan pekerjaan sebagai master of ceremony (MC) itu bisa dibantah dengan bukti-bukti yang dimiliki kepolisian.

“Setiap kuasa hukum pasti membela kliennya. Apapun juga. Kita tidak berpolemik di sini, tapi fakta yang membuktikan,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera di Mapolda Jatim, Selasa (8/1).

Barung mengatakan, seandainya memang benar Vanessa dijebak, lantas mengapa yang bersangkutan digerebek di hotel? Terlebih ada juga fakta yang menyebut Vanessa digerebek saat melakukan hubungan badan.

“Kalau dia dijebak, kenapa berada di hotel?,” ujarnya.

Senada dengan Barung, Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim Ajun Komisaris Besar Harissandi membantah bahwa penangkapan Vanessa itu adalah rekayasa.

Harissandi pun menampik jika pihak kepolisian dianggap melakukan operasi undercover demi membongkar jaringan prostitusi online tersebut.

“Kalau rekan-rekan pikirnya kita undercover, uang Rp80 juta itu besar. Sangat salah kalau undercover, ini unit siber semua menyangkut siber, kami patroli siber,” ucap Harissandi.

Sebelumnya, pengacara Vanessa Angel Zakir Rasyidin menyatakan kliennya tidak pernah menerima uang sepeser pun dari jasa tersebut.

Ia menegaskan tujuan kliennya ke Surabaya hanya untuk memenuhi panggilan pekerjaan menjadi pembawa acara atau MC.

Pekerjaan itu pun didapatnya dari sang muncikari yang kini jadi tersangka dalam kasus dugaan prostitusi online ini yakni, Endang (ES) dan Tentri (TN).

Kepolisian menangkap Vanessa di sebuah hotel di Surabaya saat kencan bersama pria bernama Rian (45) pada Sabtu (5/1) lalu.

Harissandi menyebut, Rian juga sempat dimintai keterangan oleh pihaknya, namun tak lama pengusaha tambang pasir, di Lumajang, Jatim itu dibebaskan.

Menurut Harissandi, pemulangan Rian itu dilakukan karena  tak adanya pasal hukum yang bisa menjerat pengguna jasa prostitusi.

“Karena tidak ada undang-undang yang menjerat. Sementara kita periksa sebagai saksi. Pasalnya yang kita terapkan mucikari, karena penyedianya kan mucikari,” tuturnya.