Facebook
Facebook

Medan | rakyatmedan – Facebook mungkin akan mendapatkan denda sebesar USD1,63 miliar (Rp24,3 triliun) dari regulator privasi Uni Eropa karena peretasan yang menyebabkan data dari 50 juta pengguna bocor.

Menurut Wall Street Journal, Komisi Perlindungan Data (DPC) dari Irlandia, yang merupakan regulator utama Facebook di Eropa, menuntut informasi lebih lengkap tentang peretasan ini, yang mungkin telah melanggar hukum privasi baru di Uni Eropa, Regulasi Perlindungan Data Umum (GDPR).

Regulasi baru yang ketat itu mulai berlaku pada Mei, seperti yang disebutkan oleh Business Insider. Tujuan dari GDPR adalah melindungi data masyarakat Uni Eropa.

Di bawah hukum tersebut, perusahaan yang tidak bisa melindungi data pengguna dengan aman akan mendapatkan denda maksimal sebesar EUR20 juta, atau empat persen dari total pendapatan tahunan sebuah perusahaan pada tahun sebelumnya. Denda akan ditentukan berdasarkan nilai yang terbesar.

Dalam kasus Facebook, denda maksimal yang bisa mereka terima adalah USD1,63 miliar. Kasus ini tampaknya akan fokus pada apakah Facebook memang telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa data penggunanya aman sebelum terjadi serangan ini.

Perusahaan yang diretas juga diwajibkan untuk melaporkan peretasan pada para regulator dalam waktu tiga hari sejak peretasan terjadi. DPC mengatakan, Facebook telah melaporkan serangan ini tepat waktu walau laporan itu tidak memiliki informasi yang lengkap.

Serangan siber tidak menjamin sebuah perusahaan akan terkena denda. Menurut Journal, regulator Uni Eropa jarang memberikan denda maksimal jika perusahaan sudah bekerja sama dengan mereka dalam penyelidikan.