Medan | rakyatmedan – Pasca tsunami Selat Sunda, Institut Teknologi Medan (ITM) mengirim salah satu dosennya melakukan penelitian lapangan ke lokasi bencana tersebut.

Dosen yang melakukan penelitian itu Dr Kuswandi ST MT dari jurusan teknik sipil ITM.

“Saya melakukan penelitian di Lampung Selatan itu bersama para peneliti tsunami lainnya seperti Dr Any Nurhasanah dari Universitas Bandar Lampung, Dr Any Nurhayati SSi MSi dari Universitas Muhammadiyah Lampung dan Dr Benazir ST MEng, peneliti muda dari TDMRC Aceh,” ungkap Kuswandi, Kamis (17/1/2019).

Menurur Dr Kuswandi saat ditemui di kampus ITM Jalan Gedung Arca Medan, mengatakan, tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu disebabkan longsoran piroklastik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Tsunami Selat Sunda merusak kawasan pesisir Provinsi Banten Bagian Barat dan Lampung Selatan,” ujarnya.

Kerusakan di kawasan pesisir terkena dampak tsunami menimbulkan korban jiwa dan kehancuran bangunan di pesisir. Kerusakan yang ditimbulkan merupakan kerusakan diakibatkan tsunami.

“Hal ini berbeda dengan kerusakan tsunami yang dibangkitkan gempa di dasar samudera,” katanya.

Disebutkannya kerusakan tsunami Selat Sunda total disebabkan gaya hidrodinamik tsunami.

“Daya rusak air dari tsunami Selat Sunda 2018 menjadi pusat perhatian yang dapat diteliti para akademisi,” kata Kuswandi.

Penelitian ini, tambahnya, merupakan kolaborasi para peneliti tsunami untuk mendapatkan data lapangan sebagai data primer untuk meneliti daya rusak yang ditimbulkan oleh tsunami.

Kegiatan survei dilakukan dengan pengambilan sampel sedimen paleo tsunami dan meneliti kerusakan bangunan akibat gerusan di sekitar pondasi bangunan.

“Hasil penelitian ini membuktikan ITM sebagai satu-satunya institusi Perguruan Tinggi di Sumatera Utara yang memiliki konstribusi dan konsentrasi penelitian bencana khususnya tsunami,” tambahnya. (rm-04)