Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. | foto: istimewa
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. | foto: istimewa

Jakarta | rakyatmedan – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri proaktif untuk menjaring calon-calon mahasiswa terbaik. Salah satunya dengan cara talent scouting (pencarian bakat) siswa-siswa terbaik pada madrasah, pesantren, maupun sekolah umum.

Hal ini disampaikan Menag saat meluncurkan Seleksi Prestasi Akademik Nasional Ujian Masuk (SPAN – UM) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2019, di Jakarta. 

“Jemput bola untuk memantau santri-santri di pesantren, siswa-siswa madrasah yang dua tiga tahun ke depan akan masuk PTKIN,” tegas Menag, Rabu (23/3).

Acara peluncuran SPAN-UM PTKIN dihadiri rektor PTKIN seluruh Indonesia, Kakanwil Kemenag se-Indonesia, perwakilan siswa madrasah dan perwakilan mahasiswa PTKIN ini. Menag memandang, pelaksanaan SPAN-UM PTKIN merupakan sebuah langkah yang strategis guna memperbaiki kualitas PTKIN.

Talent Scouting yang dilakukan oleh PTKIN diharapkan Menag dapat terus mendongkrak minat masyarakat terhadap PTKIN. Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk refleksi masing-masing PTKIN terhadap pelaksanaan SPAN-UM yang dilakukan.

“Saya minta masing-masing PTKIN melakukan refleksi dan menemukan cara untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap PTKIN. Terutama untuk menjaring calon mahasiswa terbaik,” kata Menag.

Apalagi menurut Menag, madrasah dan pesantren saat ini memiliki spesialisasi tertentu yang bisa digali dan diarahkan agar santri atau siswanya dapat masuk pada jurusan yang tepat di PTKIN.

“Misalnya kita punya pesantren yang spesialisasi kajiannya di ilmu hadis, fiqih, dan sebagainya. Ini kita perlu jaring. Kalau perlu kita sudah tahu mana siswa atau santri yang dua tiga tahun ke depan akan masuk ke PTKIN,” kata Menag.

Guna memperbaiki input pendaftar PTKIN, Menag juga meminta Panitia SPAN-UM PTKIN melakukan dua hal lain. Pertama, membentuk tim kajian guna melakukan analisa mendalam terkait SPAN-UM PTKIN yang dilaksanakan.

“Ini bukan kali pertama dilakukan SPAN-UM PTKIN. Dan saya minta ada tim kajian yang dibentuk untuk melakukan analisa terhadap data-data seputar SPAN-UM PTKIN,” kata Menag.

Misalnya, lanjut Menag, kajian tentang kenaikan jumlah pendaftar SPAN – UM PTKIN.

“UM PTKIN ini sudah kita laksanakan sejak tahun 2010. Sementara SPAN sudah dilakukan sejak tahun 2013. Dari laporan yang saya peroleh, angka absolut peminat SPAN – UM PTKIN meningkat setiap tahunnya. Tapi bagaimana jika dibandingkan dengan persentase dan rasio? Ini perlu dilakukan kajian,” tutur Menag.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah kajian tentang peminatan program studi di PTKIN. Menag mendapat laporan, jika program studi yang ada di bidang Ushuluddin rendah peminatnya.

“Padahal menurut saya dalam kondisi masyarakat saat ini, kajian agama seperti Ilmu Hadist, Filsafat Islam, dan sejenisnya akan banyak peminatnya. Tapi ini malah rendah. Ini apa penyebabnya?,” lanjut Menag.

Kedua, tim kajian yang dibentuk diharapkan sekaligus mengkaji tentang pembentukan lembaga tes masuk perguruan tinggi yang permanen.

“Menurut saya, sudah waktunya kita memiliki lembaga tes masuk perguruan tinggi yang permanen. Ke depan, lembaga ini saya harap bisa menjadi think tank PTKIN,” harap Menag.

“Saya minta dalam waktu satu dua bulan ke depan, Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sudah dapat memberikan konsepsi pembentukan lembaga permanen ini,” ujar Menag.