PROTES. Penertiban pedagang kaki lima (PK5) di kawasan Pasar Petisah Medan, Kamis (24/11), diwarnai aksi protes pedagang. | foto: istimewa
PROTES. Penertiban pedagang kaki lima (PK5) di kawasan Pasar Petisah Medan, Kamis (24/11), diwarnai aksi protes pedagang. | foto: istimewa

Medan | rakyatmedan – Pemko Medan melalui Satpol PP Kota Medan kembali melanjutkan penertiban pedagang kaki lima (PK5) di kawasan Pasar Petisah Medan, Kamis (24/11).

Penertiban dilakukan karena PK5 mau menggunakan ruang milik jalan (rumija) untuk menggelar lapak. Selain mengganggu kelancaran arus lalulintas, keberadaan PK5 beserta lapaknya sangat mengganggu estetika sehingga membuat kawasan itu tampak kumuh.

Penertiban dipimpin Kasatpol PP Kota Medan H M Sofyan dengan mengerahkan ratusan personelnya. Sebelum dilakukan penertiban, seluruh PK5 telah diberikan surat peringatan agar tidak berjualan lagi di rumija. Sebab, Pemko Medan melalui PD Pasar telah menyediakan tempat di Pasar Petisah.

Namun surat peringatan tidak diindahkan, PK5 tetap berjualan. Oleh karenanya Sofyan pun datang membawa personelnya melakukan penertiban.

Meskipun diwarnai protes dan teriakan, namun Sofyan tak menggubris lagi. Dia menyuruh anggotanya melakukan penertiban. Barang dagangan, meja, kursi dan tenda tak luput diamankan petugas Satpol PP. Tindakan tegas itu dilakukan guna memberikan efek jera bagi para PK5.

“Ini bukan penertiban pertama yang dilakukan, sudah berulangkali kita lakukan penertiban namun PK5 kembali lagi berjualan. Jadi kita tidak ada kompromi, barang dan lapak mereka kita amankan,” kata Sofyan.

Usai menertibkan kawasan Pasar Petisah, Sofyan selanjutnya membawa anggotanya melanjutkan penertiban di Jalan Gatot Subroto, tepatnya depan Medan Fair Plaza. Meski sempat ricuh namun penertiban tetap dilakukan karena ratusan PK5 menggunakan badan jalan untuk tempat berjualan.

“Sampai kapanpun PK5 tidak kita perkenankan berjualan di situ, sebab mereka menjadikan jalan yang merupakan fasilitas umum sebagai tempat berjualan!” tegas Sofyan. (rm-05)