Musisi Tompi
Musisi Tompi

Jakarta | rakyatmedan – Klarikasi ujaran kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet terkait kasus dugaan penganiayaan yang menimpanya membuat penyanyi sekaligus dokter bedah plastik Tompi lega. Pasalnya, cuitan dirinya dalam akun media sosialnya, sempat menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Tompi dalam media sosialnya menyebut bahwa luka-luka yang ditunjukan Ratna Sarumpaet dalam beberapa foto yang beredar adalah fase penyembuhan akibat operasi plastik yang dijalani Ratna di klinik kecantikan milik sahabatnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Mendengar klarifikasi Ratna dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Tebet, Jakarta Timur sesaat sebelum Tompi menggelar jumpa pers di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa ada dugaan penganiayaan yang dilakukan pihak tertentu adalah bohong, pria kelahiran Lhokseumawe, 22 September 1978 memang sudah menduga hal itu. Itu yang lantas membuatnya memaafkan apa yang dilakukan Ratna dan netizen yang banyak mencaci maki akibat unggahannya itu.

“Saya tidak mengomentari beliau. Beliau sendiri yang telah mengklarifikasi dan sudah minta maaf. Ya sudah dimaafkan, orang Tuhan saja maha pemaaf. Saat pertama kali saya mendengar ada penganiayaan, saya sendiri merasa geram dan kesal dengan berita itu. Masa iya wanita setua Ibu Ratna diperlakukan seperti itu, terlepas siapa pelakunya, saya pasti kesal. Namun ketika saya lihat ternyata itu bukan akibat penganiayaan, saya tergerak untuk mengatakan yang sejujurnya. Buat saya enggak ada etika kedokteran yang saya langgar. Saya hanya menyebut bahwa luka yang ada di foto itu akibat proses dari penyembuhan usai menjalani operasi plastik,” ungkap Tompi saat menggelar jumpa pers di kawasan Pakubuwono, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/9).

Tompi sendiri menjelaskan bahwa setelah melihat foto yang banyak beredar di masyarakat, Tompi memang sudah meyakini bahwa Ratna memang tidak dianiaya dan luka tersebut akibat proses penyembuhan akibat operasi plastik yang dilakukan Ratna.

“Pasti akan beda antara memar habis ditonjok dan memar habis dioperasi, tetapi untuk menentukan mana yang benar, itu bukan ranah saya, itu ranah yang berwajib. Tetapi secara teori begitu, kalau ditonjok pasti ditonjok kanan kiri, atau bisa dua-duanya, bisa salah satu? Terus jumlah tonjokan kanan dan kiri sama kuatnya, apakah intensitas sama. Apalagi dikerjakan tiga orang misalnya. Dengan hal ini, saya harap masalahnya selesai dan jangan lagilah membuat berita hoax kayak gini, kasihan masyarakat,” tutup Tompi. (rm/bs)