Petugas stasiun kereta di Swedia menganiaya perempuan hamil tua. | foto: Action4Humanity
Petugas stasiun kereta di Swedia menganiaya perempuan hamil tua. | foto: Action4Humanity

Stockholm | rakyatmedan – Masyarakat Swedia dihebohkan dengan beredarnya video yang menunjukkan seorang perempuan hamil dipukuli petugas stasiun. Aksi biadab petugas di stasiun Hotorget itu memicu kemarahan publik.

Menurut keterangan perusahaan transportasi Swedia, SL, perempuan yang tengah hamil tua itu sedang berpergian bersama anaknya. Mereka diketahui tak memiliki tiket.

Korban lebih dulu terlibat adu argumen dengan petugas di dalam kereta, karena tak bisa menunjukkan tiket. Setelah itu, dia digiring keluar dan dianiaya, kemudian diikat di bangku stasiun.

Setelah kejadian, perempuan yang tak disebutkan identitasnya itu dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka. Sementara dua petugas yang menganiayanya diberhentikan sementara sambil menunggu penyelidikan usai.

Kepolisian turut menyelidiki kasus ini setelah videonya menjadi viral. Pelaku bisa dikenakan pasal penganiayaan karena korban, yang tengah hamil 8 bulan, mengalami luka.

“Ada banyak rekaman video dari kejadian ini yang diambil dari telepon genggam dan diunggah. Ini menunjukkan bahwa petugas keamanan (stasiun) terlalu berlebihan,” kata Henrik Palmer, seorang pejabat SL, dikutip dari BBC, Sabtu (2/2).

Banyak warganet membela korban, terlebih dia tak hanya sedang hamil tua tapi juga berkulit hitam. Warganet berspekulasi korban diperlakukan tidak adil karena statusnya. Tayangan semakin memilukan karena anak perempuan korban hanya bisa menangis di samping ibunya saat petugas menganiaya.

Sementara itu, perusahaan transportasi SL menyatakan, insiden ini sedang diselidiki secara menyeluruh. Perusahaan membela diri bahwa petugas keamanan berhak mengusir penumpang tak bertiket.

“Yang kami tahu, perempuan itu kedapatan tanpa tiket dan dia dikenakan penalti. Tapi dia menolak (penalti) ini dan karenanya, menurut aturan yang berlaku, dia harus meninggalkan kereta,” kata seorang juru bicara SL.

“Dia juga menolak (meninggalkan kereta) dan saat dikawal oleh petugas keamanan kami, dia berteriak dan melawan,” ujarnya lagi.

Blogger kondang Swedia, Lovette Jallow, menilai bukan hal mengejutkan perempuan berkulit hitam diperlakukan seperti itu.

“Yang saya harapkan adalah bayinya baik-baik saja,” ujarnya, seraya menambahkan, dia sudah berkomunikasi dengan keluarga korban.

Sementara itu organisasi feminisme dan antirasis Swedia, Men for Gender Equality, menyatakan, ini bukan pertama kali petugas keamanan di Swedia menggunakan kekerasan.

“Dalam hal orang kulit berwarna, selain kulit putih, kami mendapati banyak bukti bahwa mereka menggunakan kekerasan dan kadang-kadang tindakan itu sebenarnya tidak diperlukan,” kata presiden organisasi, Alan Ali.

Dia meminta otoritas transportasi dan perusahaan keamanan diberi pelatihan tentang rasisme dan kesehatan reproduksi. (rm/in)