Mobil mewah Maserati yang diimpor oleh Papua Nugini dari Italia. (Foto: AirBridge Cargo Airlines).
Mobil mewah Maserati yang diimpor oleh Papua Nugini dari Italia. (Foto: AirBridge Cargo Airlines).

Port Moresby | rakyatmedan –  Beberapa mobil mewah Maserati bekas digunakan para petinggi negara peserta KTT APEC di Papua Nugini pada November 2018 hilang atau belum dikembalikan.

Kepolisian Papua Nugini menggelar operasi untuk melacak keberadaan mobil-mobil tersebut serta meminta kepada para pejabat yang masih menggunakannya untuk dikembalikan.

Ada sembilan unit Maserati yang raib. Jumlah itu merupakan sebagian kecil dari 284 kendaraan yang hilang atau belum dikembalikan ke kepolisian.

Selain mobil mewah yang digunakan para tamu KTT APEC, ada pula kendaraan yang dipinjamkan ke pejabat Papua Nugini untuk kepentingan mengurus pertemuan tersebut. Mobil-mobil tersebut di antaranya Toyota Land Cruiser, Mitsubishi Pajero, serta merek Ford dan Mazda.

“Ada 284 kendaraan yang digunakan untuk para pejabat selama APEC yang belum dikembalikan,” kata Dennis Corcoran, pejabat kepolisian Papua Nugini dari unit aset negara, dikutip dari Reuters, Selasa (12/02/2019).

Selain mobil dicuri, lanjut dia, ada kendaraan yang dikembalikan dalam kondisi tak utuh, yakni komponennya hilang. Ada pula kendaraan-kendaraan dikembalikan dalam kondisi rusak berat, padahal dibeli dalam kondisi baru.

Dia menambahkan, sejauh ini ada 40 unit sedan Maserati Quattroporte dan tiga Bentley yang berbasil diselamatkan.

“Dalam kondisi prima dan terkunci di dermaga tua yang dijadikan dermaga utama,” kata Corcoran.

Polisi, kata dia, yakin enam dari sembilan mobil curian masih berada di sekitar Port Moresby, sementara tiga lainnya dibawa ke Gunung Hagen, di dataran tinggi.

Juru bicara pemerintah, Chris Hawkins, mengatakan, untuk acara sekelas KTT APEC, pemerintah berupaya menyelenggarakannya sebaik mungkin karena terkait dengan reputasi negara. Sementara mobil yang belum kembali kebanyakan digunakan oleh paramedis, pemadam kebakaran, dan pegawai pemerintah lainnya.

Pembelian mobil-mobil mewah itu memicu polemik di Papua Nugini karena dianggap pemborosan. Padahal, negara sedang mengalami krisis dan banyak rakyat yang hidup miskin. Apalagi, Papua Nugini sedang menghadapi wabah polio saat KTT berlangsung. Rencananya, mobil-mobil itu akan dilelang usai KTT dan uangnya dikembalikan ke negara. (rm/in)