Medan | rakyatmedan – Puluhan jurnalis tergabung dalam Koalisi Jurnalis Antikekerasan Sumatera Utara (Sumut) menggelar aksi unjukrasa bundaran Jalan Sudirman, Medan, Senin (25/02/2019).

Unjukrasa ini buntut dari protes aksi persekusi dan kekerasan yang dialami sejumlah jurnalis dalam acara Malam Munajat 212 di Lapangan Monas, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Puluhan jurnalis dari berbagai media baik cetak, elektronik, maupun online mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menangkap sejumlah pelaku yang diduga melakukan kekerasan dan persekusi terhadap jurnalis dalam acara Munajat 212. 

Tindakan persekusi jelas melanggar ketentuan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang (UU) Pers Nomor 40 Tahun 1999. 

“Apa yang dilakukan oknum peserta aksi tersebut sangat kami sesalkan. Tidak seharusnya aksi persekusi itu terjadi,” kata Array yang mewakili Koalisi Jurnalis Antikekerasan Sumut, Senin (25/02/2019).

Array mengatakan, dalam melaksanakan peliputan, jurnalis dilindungi undang-undang. Ketika ada pihak yang berupaya menghalang-halangi tugas jurnalistik, maka pelaku dapat diancam hukuman kurungan badan dua tahun. 

“Tidak hanya mendapat aksi kekerasan, rekan kami yang tengah melakukan peliputan juga dipaksa menghapus gambar dan video hasil liputannya. Ini jelas bentuk tindakan yang sangat bar-bar,” ungkapnya.

Agar kasus serupa tidak terjadi lagi, Array meminta agar kepolisian segera membentuk tim. Dia meminta pelaku yang terekam melakukan aksi kekerasan diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Mereka yang terekam melakukan kekerasan harus ditindak tegas aar kasus serupa tidak terjadi lagi, dan menjadi efek jera bagi pelakunya,” ujar wartawan media cetak itu.

Hal senada juga disampaikan oleh salahsatu pengurus Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Harizal. Polisi harus segera menangkap para pelaku persekusi jurnalis karena mereka diduga telah melanggar Pasal 4, Pasal 8 dan Pasal 18 Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Pelaku dapat diancam hukuman kurungan dua tahun penjara dan denda sebesar Rp500 juta,” katanya. 

Harizal juga menyayangkan bahwa kegiatan keagamaan yang harusnya berlangsung damai berujung aksi persekusi pada jurnalis.

“Kami sangat kecewa, sebab pelakunya menggunakan simbol-simbol agama. Padahal, di agama mana pun tidak diajarkan melakukan kekerasan terhadap sesama,” ujarnya. (rm/in)